oleh

KEBEBASAN JURNALISME

Kebebasan Jurnalisme

https://www.rokanhulunews.com/

J. Herbert Altschull dalam buku edisi pertamanya, Agents of Power membantah bahwa kategori dalam four theories of the press, yang di formulasikan selama perang dingin tidak relevan, dia menyatakan bahwa analisis tersebut menggunakan pendekatan “kami-melawan-mereka” yang menggambarkan peperangan pada masa itu.

Altschull mengatakan, “Salah satu kesulitan di hadapan kita yang paling mengkhawatirkan dalam upaya menghindari ancaman dari konfrontasi dunia adalah penggunaan label dan bahasa konflik.” Dia menyatakan bahwa pers yang mandiri tidak mungkin terwujud dan karenanya media massa hanyalah menjadi alat pemegang kekuasaan ekonomi, politik dan semua kekuatan sosial dalam sistem apa pun. 

Dengan menggunakan data yang di kumpulkan selama lebih dari 26 hari dan dua 1V saluran nasional, para peneliti menyatakan bahwa pengaruh yang lebih besar terhadap dunia yang di ciptakan oleh berita adalah lokasi sosial tiap-tiap agen berita tersebut, mereka berpendapat bahwa pemilihan dan penyajian berita tidak begitu bergantung pada kandungan berita itu sendiri, tetapi lebih pada posisi organisasi berita dalam struktur sosial yang lebih luas.
 

Kebebasan jurnalisme menuntut banyak hal dari para praktisinya, sebagai suatu keterampilan profesional, jurnalisme menuntut kita untuk mengesampingkan pendapat dan kepentingan diri sendiri dan mengedepankan upaya mencari kebenaran atas nama pembaca dan masyarakat. 

Kebebasan jurnalisme menuntut kita untuk meninggalkan agenda pribadi dan untuk menulis berdasarkan fakta dan liputan, meskipun mungkin tidak sejalan dengan tujuan favorit kita.
 

Kebebasan jurnalisme menuntut kita untuk menghindari konflik kepentingan, bahkan konflik yang menyangkut keuntungan ekonomi untuk diri sendiri atau organisasi pemberitaan kita, hal ini adalah suatu standart yang bertentangan dengan realitas di sebagian besar tempat di dunia, yaitu gaji wartawan. 

Wartawan hanyalah sebagian pekerja yang mendapat gaji terendah dan harus membanting tulang dengan berat, dalam dunia ideal, jurnalisme seharusnya bebas dari segala motif, kecuali untuk memberi informasi kepada publik. 

Kebebasan jurnalisme tidak pernah boleh di motivasi oleh keinginan untuk menjilat pemasang iklan, memperjuangkan kepentingan politik atau membantu kepentingan ekonomi si wartawan atau organisasi media.
 

Hubungan antara media yang berfungsi, dengan kemajuan ekonomi telah membawa pembahasan mengenai kebebasan dan kelangsungan hidup pers keluar dari lingkungan diskusi politik, jika pers yang tumbuh sehat bergandengan dengan kemajuan ekonomi (misalnya di indikasikan dengan menurunnya tingkat kematian anak), berarti institusi seperti Bank Dunia dan Program Pembangunan PBB harus mulai mendukung perkembangan media sebagai salah satu elemen yang memberi kontribusi pada pembangunan ekonomi dan sosial yang luas.
 

Interaksi antara media dengan perekonomian yang mengelilinginya tidaklah sederhana, media memberi kontribusi kegiatan ekonomi dan kondisi ekonomi mempengaruhi kesehatan media, terutama dengan mempengaruhi audiens dan pemasang iklan yang di cari oleh organisasi berita agar bisa mandiri secara finansial. 

Pengalaman di berbagai negara menggambarkan bagaimana Pers berada dalam suatu perekonomian, menyumbang dan memperoleh sesuatu darinya, kadang-kadang koran ataau media online berusaha membenarkan penerimaan hadiah atau jasa. 

Wartawan yang bijak tidak bisa di katakan menerima suap seperti menerima makan atau karcis gratis ketika menonton sepak bola, dalam masyarakat kecil, wartawan kadang-kadang mungkin menghadapi masalah alam mempertahankan perannya yang bebas. 

Ada tekanan untuk ikut dalam tugas sukarela atau dalam klub dan kelompok bisnis, atau bahkan dalam pemerintah daerah, realitas di lapangan menunjukkan sering terjadi pertentangan kepentingan. 

Wartawan tidak berharap di pisahkan dari masyarakat di mana mereka hidup, mereka juga tidak bisa melayani dua majikan yang mempunyai kepentingan yang berlawanan. 

Redaktur atau wartawan yang bijak akan sadar terhadap konflik itu dan mempertahankan tanggung jawab profesionalnya, tanggung jawab khusus apakah yang di tanggung Pers sebagai imbalan atas perlindungan terhadap status kebebasannya itu? Tidak ada yang di uraikan dengan jelas. 

Sebuah koran berhak berpihak, tidak jujur atau hal lain apa saja yang di  mungkinkan oleh nuraninya, meskipun koran dapat di persalahkan berdasarkan undang-undang penghinaan, tetapi dalam batas yang sangat luas mereka menetapkan tanggung jawab mereka sendiri. 

Pemikiran yang mendasari hal ini adalah dari pertentangan pendapat dan gagasan yang di sajikan oleh pers bebas, pada akhirnya akan muncul sesuatu yang menyerupai  kebenaran.
 

Pada praktiknya, kebenaran tidak selalu muncul jika tidak ada yang menggalinya, tidak ada satu versi pun yang resmi mengenai apa yang merupakan kebenaran, dalam masyarakat, di mana hanya ada satu koran, pembaca mungkin tidak menjumpai pandangan yang berbeda kecuali koran itu memilih untuk menyajikan pandangan tersebut, radio atau televisi tidak selalu bisa menjadi pengganti yang efektif.

Baca juga...  TANTANGAN INTERNAL PERS

Komentar

Tinggalkan Balasan & Terima Kasih Atas Kunjungan Anda...

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Sebaiknya anda baca