oleh

PROSPEK BISNIS MEDIA ONLINE

https://www.rokanhulunews.com/

Pasir Pengaraian – Prospek Bisnis Media Online
Berbeda dengan awal tahun 2000-an, ketika situs online menjamur dan rontok satu persatu, kini prospek bisnis di dunia maya terlihat cerah, kabar gembira pertama datang dari penetrasi pengguna internet di tanah air. Menurut laporan www.internetworldstats.com, per 31 Desember 2011, secara persentase populasi pengguna internet di Indonesia masih ketinggalan jauh dibanding tetangganya yaitu Singapura, Malaysia, bahkan Brunei Darussalam, di Singapura, tercatat, 77,2 persen penduduknya tersambung dengan internet.

Di Malaysia, pengguna internet mencapai 61,7 persen dari populasi. Brunei punya catatan lebih baik, 79,4 persen penduduknya adalah pengguna internet, di Indonesia, internet baru menjangkau 22 persen penduduk, namun masih menurut catatan www.internetworldstas.com, jumlah pengguna internet di Indonesia adalah terbesar keempat di Asia setelah China (513 juta pengguna), India (121 juta), dan Jepang (101,2 juta).

Per 31 Desember 2011, 55 juta masyarakat Indonesia tersambung dengan internet. Di tahun 2000, pengguna internet di Indonesia hanya tercatat sebesar 2 juta orang, artinya dalam 11 tahun terjadi pertumbuhan sekitar 2.750 persen.

Tingginya pengguna internet di Indonesia juga terasa di jagat media sosial. Indonesia dikenal sebagai salah satu negara dengan aktivitas media sosial yang paling aktif sejagat, salingsilang.com, situs pencatat dinamika twiterland di Indonesia, memberitakan pada 10 Januari 2012, Indonesia merupakan salah satu negara paling aktif dalam menggunakan Twiter40.

salingsilang.com mengutip catatan Eric Fischer, seorang social media cartographer, yang membuat peta lalu lintas data dunia yang terjadi di twiter.com. Mediabistro.com di medio 2011 juga mencatat, Indonesia menempati peringkat ke-4 teraktif di Twiter
dengan pengguna sebesar 22 persen, setelah Belanda (26,8 persen), Jepang (26,6 persen), dan Brasil (23,7 persen).

Effective Measure, sebuah lembaga pencatat traffic internet, menemukan sejumlah keunikan pengakses internet dari Indonesia. Menurut lembaga yang berbasis di Melbourne-Australia itu, pengakses internet di Indonesia mayoritas berumur 25 sampai 30 tahun, yakni sekitar 25 persen.

Baca juga...  Petani Sawit Di Rokan Hulu Keluhkan Harga TBS Sawit Rp.700 Per Kg

Robin Muliady, Senior Business Development Manager Effective Measure-Indonesia, mencatat selama bulan Januari 2012, terdapat 36 juta unique browser di Indonesia, dari jumlah itu, 10,3 persen diakses dari telepon seluler, kemudian 38,93 persen pengakses berpenghasilan kurang dari 500 dolar AS per bulan, 16,2 persen berpenghasilan antara 501 sampai 1.000 dolar AS, kemudian 12,7 persen tak mau menyebutkan penghasilannya.

Dari segi usia, pengakses internet terbanyak adalah mereka yang berusia 25-30 tahun (25,88 persen), 21-24 tahun (16,17 persen), 35-40 tahun (15,5 persen) dan 31-34 tahun (14,72 persen), kemudian 67 persen pengakses berpendidikan sarjana, di ikuti sekolah menengah atas (20,8 persen) dan sarjana strata 2 ke atas (10,18 persen). Selanjutnya, 50,48 persen telah menikah, lajang 44,68 persen, dan 1,64 persen bercerai.

Di Asia Tenggara, Indonesia juga juara dalam hal mengakses melalui telepon seluler. Dari 100 persen pengakses, 65 persen menggunakan telepon seluler, posisi berikutnya adalah Singapura (64 persen) dan Tailand (46,8 persen).

Indonesia juga dikenal sebagai pengakses internet yang paling getol mencari informasi. Dari 100 persen pengakses, 67 persen merupakan pencari informasi, sementara, di Filipina pencari informasi mencapai 66,77 persen dan Malaysia 64,53 persen, soal pencarian informasi ini, angka pertumbuhan pengakses untuk media berita lokal mencapai 20,56 persen, sementara untuk media berbahasa Inggris 18,35 persen.

Untuk Januari, Effective Measure menemukan ada 6.915.360 unique browsing untuk media berita, pendek kata, pengguna internet di Indonesia tumbuh pesat, karakteristik dan perilaku mereka pun teridentifkasi centang perentang, tentu saja ini merupakan pasar potensial bagi industri.

Selanjutnya, kabar gembira kedua datang dari proyeksi kue iklan yang bertaburan di internet. Sekjen Serikat Perusahaan Pers Ahmad Djauhar memperkirakan tahun 2012 media online di indonesia akan merebut kue iklan hingga Rp 1 triliun, setelah pada 2006 hanya Rp 66 miliar dan 2009 sebesar Rp 220 miliar.

Baca juga...  Galian C dan Tambang Batubara Di Kampar yang Meresahkan Akan Di Tertibkan

Managing Director Ipsos ASI Asia Pasifc, Kym Penhall menyatakan, belanja iklan online di Pasifc tahun 2010 nilai mencapai 16,8 miliar dolar AS. “Tahun 2014 belanja iklan online di
Asia Pasifc diprediksi akan mencapai 26,1 miliar dolar AS,” jelasnya.

Ipsos adalah perusahaan riset marketing internasional yang bermarkas di Perancis. Ipsos hadir di Indonesia sejak tahun 2008 lalu, dalam waktu dekat, internet diperkirakan akan menjadi media iklan terbesar kedua di dunia yang menyedot uang sebanyak Rp 312 triliun, atau seperempat dari belanja iklan yang ada.

Proyeksi ini disampaikan Manish Chopra, Director of Marketing and Operation PT Microsof Indonesia, “Internet diperkirakan akan menjadi media iklan terbesar kedua di dunia pada 2013, menggantikan surat kabar cetak,” ujarnya. Optimisme bisnis pun disampaikan para pelaku industri media online. Sapto Anggoro yang pernah menjabat sebagai Direktur Operasional Detik.com mengungkapkan, sampai akhir 2011, biaya operasional detikcom dengan awak redaksi sebanyak 200 jurnalis sekitar Rp 5-6 miliar per bulan.

Pendapatannya sekitar Rp 9-Rp 10 milar per bulan. Artinya, di akhir tahun setidaknya detik.com yang kini menduduki singgasana sebagai situs berita nomor 1 di Indonesia berdasarkan rangking alexa mampu meraup penghasilan sekitar Rp 120 miliar. Menurut Sapto, penghasilan detik.com berasal dari iklan banner, partnership program marketing dan ring back tone (RBT) dengan operator Indosat, tentu bukan tanpa optimisme bisnis jika Boss CT Corp Chairul Tanjung mengakuisisi detik.com senilai 60 juta dollar AS atau sekitar Rp 500 miliar.

Kompas.com, situs berita nomor 2 berdasarkan alexa, mendapat suntikan dana sebesar Rp 11 miliar dari induk semangnya Grup Kompas Gramedia untuk “reborn”pada 2008, meski tak bersedia menyebut target pendapatan, Edi Taslim mengungkapkan, kompas.com sudah menangguk untung sejak 2009, sebanyak 82 persen pendapatan kompas.com berasal dari iklan, sisanya 18 persen berasal dari commerce dan mobile.

Di banding detik.com, awak kompas.com lebih ringkas, sekitar 200 orang karyawan, selanjutnya, catatan menarik ditorehkan oleh vivanews.com yang kini berkibar dengan brand baru viva.co.id.

Baca juga...  Ini Dia Kategori Pengangguran Dapat 'Gaji' dari Jokowi

Berdiri pada 2008, viva.co.id kini nangkring di posisi ketiga situs berita Indonesia berdasarkan rangking alexa, Nezar Patria, salah seorang Redaktur Pelaksana viva.co.id tidak bersedia mengungkap seputar ongkos produksi dan penghasilan media online milik kelompok usaha Bakrie ini, namun kita tahu, tiga tahun setelah berdiri, viva.co.id bersama TVone dan ANTV merilis IPO (initial
public offering) perdana pada November 2011.

Okezone.com milik Grup MNC juga membukukan catatan positif secara bisnis. Pemimpin Redaksi Okezone.com Budi Santoso menuturkan, okezone sudah membukukan untung pada tahun kedua sejak di luncurkan pertamakali pada 1 Maret 2007, dengan biaya operasional sebesar Rp 850 juta per bulan, menurut Budi, okezone.com mampu meraup penghasilan sekitar Rp 2 miliar per bulan. Pendapatan mayoritas diperoleh dari iklan.

Kapanlagi.com yang berdiri sejak awal 2003 berjaya sebagai situs entertainment terbesar menurut Comscore. Steve mengaku kapanlagi.com mengeluarkan Rp 700-900 juta per bulan untuk biaya operasionalnya. Untuk pendapatan ia enggan terbuka. “Cukup untuk menutupi biaya operasional,” kata dia. Pendapatan diperoleh dari Iklan, program, sindikasi konten dan event.

Catatan menarik juga ditorehkan tempointeraktif yang kini muncul dengan brand baru tempo.co. Nezar Patria yang hengkang dari Tempo dan mendirikan Vivanews bersama Karaniya Dharmasaputra mengungkapkan, ide-ide pengembangan online kurang mendapat dukungan di Tempo.

Hal ini pun diakui Redaktur tempo.co, Widiarsi Agustina. Tapi itu dulu. Kini Kelompok Tempo Media sepertinya tak bisa memandang sebelah mata terhadap situs mereka, meski tidak sebesar situs-situs yang lain, namun penghasilan tempo.co selalu melebihi target.

Tahun 2010 manajemen menetapkan target pendapatan di angka Rp 1 miliar. Kenyataannya pundi-pundi uang masuk mencapai Rp 1,5 miliar. Begitu juga di tahun 2011. Target Rp 2,5 miliar terlampaui hingga Rp 4 miliar. “Ini di luar ekspektasi,” kata Widiarsi.

Komentar

Tinggalkan Balasan & Terima Kasih Atas Kunjungan Anda...

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Sebaiknya anda baca