oleh

Tito Karnavian, Sekarang Mendagri, Dulu Pernah Tangkap Tommy Soeharto

Jakarta – Presiden Joko Widodo menunjuk Jenderal Polisi Tito Karnavian  menjadi menteri dalam negeri dalam kabinet pemerintahan periode 2019-2024. Joko Widodo sudah mengenalkan Tito di Istana Negara, Jakarta, pada Rabu (23/10).

Sebelum ditunjuk menjadi menteri, Tito ditunjuk sebagai Kapolri. Dia merupakan polisi yang lulus angkatan 1987. Dia juga mendapatkan penghargaan Adhi Makayasa karena menjadi yang terbaik di angkatannya.

Tito lahir pada 26 Oktober 1964. Dia mewakili putra asal Palembang, Sumatera Selatan.

Tito dikenal sebagai polisi yang ahli dibidang terorisme. Tito pun memiliki jumlah gelar akademik.

Diantaranya Master of Arts dalam Studi Polisi dari University Exeter, Inggris. Kemudian, Sarjana Seni dalam Studi Strategis, Universitas Massey, Selandia Baru. Dia juga mendapat gelar Ph.D dalam Studi Strategis dengan minat pada Terorisme dan Radikalisasi Islam dari Sekolah S. Rajaratnam untuk Studi Internasional, Universitas Teknologi Nanyang, Singapura.

Pada 2017 lalu, Tito dianugerahi gelar profesor dari Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian (PTIK). Dia otomatis menjadi guru besar di PTIK.

Riwayat Hidup Tito Karnavian

Usai Lulus dari SMA Negeri 2 Palembang, Tito pernah mendaftarkan Diri di dua Perguruan Tinggi Negeri, yakni Universitas Sriwijaya, Palembang Dan Sekolah Tinggi Akuntansi Nasional (STAN) Jakarta.

Dia dinyatakan lulus test di Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya, Fakultas yang diharapkan meminta agar Tito menjadi seorang dokter.

Namun, Tito lebih memilih untuk masuk Akademisi Polisi (Akpol) di Magelang, Jawa Tengah. Dia memilih itu karena ekonomi, sedang memperbaiki krisis dan mendapatkan pendidikan gratis dari pemerintah.

Ia lulus Akpol pada tahun 1987 saat usianya masih 23 tahun. Ia menerima predikat berhasil terbaik dan menerima bintang Adhi Makayasa.

Setelah lulus, Tito langsung ditugaskan di Polres Jakarta Pusat sebagai Kanit Jatanras Reserse Polres Metro Jakarta Barat.

Selain itu, Tito juga pernah tergabung dengan tim reserse, Sespri Polri, Anti Teror, hingga Asisten Kapolri Bidang Perencanaan Umum dan Anggaran Polri.

Pada 2001, Tito dipercaya menjadi Ketua Tim Kobra. Hakim Agung Safiudin, Tommy Soeharto. Atas keberhasilannya tersebut, ia pun berhasil meraih pangkat dari Walikota ke Ajun Komisaris Besar (AKBP).

Jenderal Tito Karnavian dikenal sebagai polisi ahli terorisme yang sekarang diangkat menjadi menteri (CNN Indonesia / Djonet Sugiarto)

Dia lalu dipindah di Detasemen 88 Anti Teror Metro Jaya dengan pimpinan 75 orang. Tito berhasil melumpuhkan kelompok-kelompok teroris di Indonesia, termasuk mengungkap kasus bom Bali.

Baca juga  Komisioner KPK Mengjukan Uji Materil (Judicial Review) UU KPK Ke MK

Pada 9 november 2005, Tito bersama timnya berhasil melumpuhkan kelompok penyelamat Dr. Azahari Husin di Batu, Malang, Jawa Barat. Atas penghargaannya tersebut, ia meraih kenaikan pangkat luar biasa menjadi Komisaris Besar Polisi (Kombes).

Berselang dua tahun kemudian, terdiri dari tahun 2009 Tito berhasil melumpuhkan suksesi Noordin M Top.

Dia ditarik ke Badan Penanggulangan Terorisme Nasional (BNPT) pada 2012. Kemudian ditarik sebagai Kapolda Papua. Dua tahun kemudian, ia diangkat menjadi asisten anggaran (Arsena) Kapolri di Mabes Polri.

Karirnya semakin melejit setelah ditunjuk sebagai Kapolda Metro Jaya. Dia berhasil menyelesaikan kasus Bom Sarinah Thamrin, Jakarta.

Dia kemudian menerima kenaikan pangkat dari Inspektur Jenderal Polisi (Irjen) menjadi Komisaris Jenderal Polisi (Komjen), lalu ditunjuk menjadi Kepala Badan Penanggulangan Terorisme Nasional (BNPT).

Baru 3 bulan memimpin BNPT, Tito ditunjuk oleh Presiden Joko Widodo untuk menerima Jenderal Badrodin haiti yang menerima. Atas penunjukkan tersebut, Tito berhasil menyalip sejumlah senior bintang tiga, termasuk Wakapolri Budi Gunawan.

Meski penunjukkan tersebut menimbulkan sejumlah pro dan kontra, namun akhirnya nama di Tito Karnavian Tetap diajukan Oleh Presiden Ke DPR Dan DAPAT Berjalan lolos Hingga Ke pelantikan Menjadi Kapolri, diiringi DENGAN kenaikan pangkat Hotel bintang empat PADA Juni 2016.

Atas kenaikan pangkat tersebut jabatannya Menjadi Jenderal (Pol) Tito Karnavian.

Kasus Novel Baswedan

Presiden Jokowi tidak pernah meminta Tito untuk menuntaskan kasus penyiraman udara keras terhadap penyidik ​​KPK Novel Baswedan. Penyidik ​​yang juga mantan anggota polisi itu disiram air keras pada 2017 lalu.

Tim pertama dibentuk pada 12 April 2017 oleh Kapolda Metro Jaya saat itu, Idham Aziz. Sementara tim kedua ditetapkan Januari 2019 oleh Kapolri Tito Karnavian yang disebut sebagai Tim Gabungan Pencari Fakta.

Selanjutnya tim dimulai pada Agustus 2019 yang dibuat oleh tim teknis yang dibuat atas penilaian tim sebelumnya di bawah komando Direktur Tindak Pidana Umum Bareskrim Polri Brigjen Nico Afinta. Namun hingga 2,5 tahun pengusutan, kasus tersebut muncul.

Komentar

Tinggalkan Balasan Anda

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Berita Terkait