oleh

Tradisi Adzan Magrib Dua Kali di Libanon

Beirut Di tiap negara, pasti ada tradisi unik selama Ramadhan, kalau di Lebanon ada tradisi azan magrib dua kali, ikut yang mana kita?

Ramadhan tahun 2019 ini merupakan Ramadhan kali keempat bagi saya di Lebanon.

Berdasarkan keputusan Darul Fatwa Lebanon, semacam Kemenag di Indonesia, melalui pengamatan hilal ditetapkanlah satu Ramadhan pada hari Senin, 6 Mei 2019.

Mulai hari itulah, kami melaksanakan ibadah puasa, khususnya bagi saya yang tinggal di Kota Beirut, ibukota Lebanon yang dihuni oleh umat beragama yang bermacam-macam.

Negara Lebanon memang terkenal sebagai rumah bagi berbagai macam sekte agama. Bahkan bisa dikatakan berbagai sekte agama yang ada di kawasan Timur Tengah, hampir semuanya bisa kita jumpai di negara sekecil Lebanon ini.

Oleh karenanya kemudian disepakatilah sistem politik yang dikenal dengan konfesionalisme.

Yaitu sebuah sistem politik yang membagi jabatan politis tertinggi secara proporsional untuk setiap perwakilan sekte agama yang berbeda-beda. Itulah sebabnya mengapa di Lebanon, presiden pasti dijabat oleh Kristen Maronit, perdana menteri dari Sunni, dan kepala parlementer dari Syiah. Itulah cara Lebanon untuk hidup berdampingan.

Dari semua itu, prosentase umat Islam sekitar 60%.

Dari berbagai sekte ini, Sunni dan Syiah bersama-sama menjalankan ibadah puasa Ramadhan. Menariknya, waktu azan maghrib mereka berbeda.

Sehingga bagi saya yang asrama kampusnya dekat dengan pemukiman Syiah, saya terkadang harus mencermati, apakah ini azan masjid Sunni atau Syiah?

Kenapa demikian? Ya, jadi Syiah itu azannya sekitar 15 menit setelah azan Sunni, baik untuk azan subuh maupun maghrib. Sehingga waktu memulai puasa dan berbuka puasa bagi kedua sekte ini berbeda. Inilah pengalaman unik bagi saya yang belum pernah mengenal dan bersinggungan langsung dengan umat Syiah sewaktu di Indonesia.

Baca juga...  Jama'ah Thariqat Syattariah Dan An-Nadzir Rayakan Idhul 'Adha Lebih Dulu

Tapi membedakan kedua azan tersebut tidaklah sulit. Azan Sunni sebagaimana yang familiar kita dengarkan di Indonesia. Sedangkan Syiah menambahkan beberapa kalimat yang berbeda di pertengahan azannya. Di samping itu, masjid Sunni dan Syiah juga terpisah. Sehingga saya bisa dengan mudah menentukan apakah azan ini dari masjid Sunni atau masjid Syiah.

Ramadhan Tamu Spesial Bersama

Di tengah beragamnya agama di Lebanon, sewaktu bulan Ramadhan tiba, ia tidak hanya menjadi tamu agung bagi umat muslim di negeri ini, melainkan juga menjadi tamu spesial bagi setiap umat beragama di Lebanon. Terlebih lagi ibukotanya, Beirut. Pernak-pernik dan lampion menghiasi jalanan kota sejak awal bulan Ramadhan.

Baladiyah Beirut (Pemkot) Beirut juga turut memeriahkan dengan menghiasi beberapa sudut kota dengan berbagai tulisan unik menggunakan bahasa Arab amiyah, “Beirut bitahlaa bi Ramadhan” (Kota Beirut Menghiasi diri di Bulan Ramadhan). “Ramadhan, heluw bi Beirut” (Ramadhan di Beirut indah).

Puasa 16,5 jam di Musim Panas

Ramadhan tahun ini jatuh pada musim panas. Sehingga siang hari lebih lama dari pada malamnya. Ini menjadi tantangan tersendiri bagi umat muslim di negeri ini yang menjalani puasa Ramadhan selama 16,5 jam. Sehingga, hirup pikuk umat muslim beralih menjadi malam hari dengan beribadah di masjid hingga sahur tiba, khususnya 10 malam terakhir bulan Ramadhan.

Pada malam ke-27 Ramadhan, ada tradisi yang selalu dijalani oleh masyarakat Lebanon. Umat muslim beramai-ramai memadati masjid-masjid terdekat, tak terkecuali Masjid Nasional Muhammad Al Amin di tengah Kota Beirut. Di sini dilaksanakan salat tarawih 23 rakaat dengan bacaan 1,5 juz sekaligus khataman Alquran. Setelah itu dilanjutkan qiyamul lail dengan salat tahajud dan salat tasbih hingga sahur bersama.

Baca juga...  Menteri Agama RI Tetapkan 01 Ramadhan 1440 H Senin 06 Mei 2019

Buka dan Sahur Gratis

Sebagai perantau ilmu, mahasiswa Indonesia yang uangnya pas pas-an hidup di luar negeri, pastinya memburu hal-hal yang berbau gratis. Beberapa masjid di bawah otoritas Darul Fatwa menyediakan buka dan sahur gratis. Kita hanya cukup datang ke masjid tersebut dengan membawa beberapa wadah.

Petugasnya lah yang kemudian mengisi wadah tersebut sesuai menu pada hari itu. Ia juga memberikan takjil berupa kurma, halawiyyat (manisan khas Lebanon), dan jallab (semacam sirup dari sari kurma). Selain itu, ada pula dermawan yang langsung mendatangi asrama mahasiswa memberikan makanan untuk berbuka puasa.

“Tafadhol syekh, madza turiiduun?” yang artinya “Silakan syekh, apa yang kalian inginkan?” Begitulah ucapan dermawan tersebut sambil memberikan makanan, hingga memuliakan kami dengan panggilan ‘Syekh’. Ya memang penuntut ilmu mendapat tempat spesial bagi warga Lebanon.

Safari Tarawih dan Bukber di KBRI

Dengan adanya buka dan sahur gratis ini, mahasiswa, para WNI dan juga staf KBRI terkadang mengadakan safari tarawih. Berkumpul di sebuah masjid, mengikuti pengajian para syekh, buka bersama, salat tarawih, qiyamul lail hingga sahur bersama di masjid tersebut.

Begitulah terus setiap malamnya menggilir satu per satu masjid yang berdekatan di Downtown (pusat kota) Beirut.

Setiap hari Jumat, aktivitas menjelang buka puasa hingga salat tarawih dilaksanakan di KBRI Beirut. Undangan ditujukan kepada mahasiswa Indonesia, para WNI dan sesekali juga TNI UNIFIL yang sedang bertugas menjaga perdamaian.

Di situlah, kita bisa silaturahmi dengan WNI lainnya sambil melepas rindu masakan khas Indonesia. Kebersamaan dan rasa kekeluargaan sesama WNI ini membuat saya tak merasa sedang jauh dari tanah air tercinta.

Semoga sahabat sekalian suatu saat berkesempatan juga mencicipi Ramadan di Lebanon, Negerinya Kahlil Gibran, Parisnya Timur Tengah dan masih banyak julukan unik lain yang disematkan kepada Lebanon. Ramadan karim, Taqabbalallahu Minna wa Minkum Taqabbal Ya Kariim.

Baca juga...  Suasana Hujan Lebat, Pawai Semarak Ramadhan 21 Sya'ban 1440 Hijriyah Rokan Hulu Tetap Semangat!

*) Hamid Hodir adalah Mahasiswa S1 Studi Islam dan Sastra Arab di Universitas Kulliyatud Dakwah, Beirut, Lebanon. Saat ini sebagai Wakil Koordinator PPI Dunia Kawasan Timur Tengah dan Afrika dan Dewan Konsultan PPI Lebanon.
*) Artikel ini terselenggara atas kerja sama detikcom dengan Perhimpunan Pelajar Indonesia se-Dunia (PPI Dunia).

Komentar

Tinggalkan Balasan & Terima Kasih Atas Kunjungan Anda...

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Sebaiknya anda baca